Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2015

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Hilang

Sedetik sepi berkaca pada sunyi Bersinar merah, membara dalam dahaga Bentang cerita terkoyak realita Kata suci ternoda makna dalam luka Kemana cerita? Kemana hilangnya pemantik-pemantik itu? Tenggelam bersama kebenaran Menghilang tanpa mesiu yang berdentum Entah dimana darah mereka mengucur Entah dimana raga terselubung luka Bahkan aku tak tahu, apakah mereka terluka Dimana hilangnya pemantik itu? Api kini berkobar Meski tak besar, kadang kala mulai menggila Dimana rasa itu? Dimana tangan-tangan sang penuntun kau lenyapkan? Aku tak mengerti mengapa mereka tiada Aku tak tahu dimana jejak mereka tertinggal Dimana kata adil? Benar. Itu hanya milik Tuhan Manusia? Hanya omong kosong Banyak kata dengan cerita Setiap nada menggugah cinta Bersama luka ku coba tertawa Meski perih tak enggan menginap Rach~

Tanpa Judul

Saat mentari menari bersama awan, Aku yakin, bulan akan menemukan awannya. Nanti, disaat yang pasti datang Meski entah kapan Dan ketika bentang rindu memercik kata Tawa luka tak lagi mampu terdengar telinga Dengan gemuruh bisikan angin malam Aku mencoba curi dengar dari pujangga Jika langkah yang entah kemana tak lagi perkasa Cahaya mulai memudar dipojok cakrawala Ingin ku tebas rimba buta ini Membiarkan sengatan sang dewa menyentuh kulit yang luka Biarkan sang luka Biarlah perih itu Tinggallah dalam dekap lantunan nada sumbang sang malam Bertahanlah bersama derasnya hujan yang tajam Jika nanti rembulan bertemu awannya Aku ingin memperdengarkan lagu rindu itu Agar mereka mengerti Dan lalu berdansa dengan lagunya Bila malam terlalu jauh Akan ku jemput senja untukmu Bukan malam yang pekat Bukan Malam yang memisahkan Bukan Malam yang membutakan Gemuruh itu yang menulikan kita Belukar dan rimba yang menjadi dindingnya Du...