Skip to main content

Tanpa Judul

Saat mentari menari bersama awan,
Aku yakin, bulan akan menemukan awannya.
Nanti, disaat yang pasti datang
Meski entah kapan

Dan ketika bentang rindu memercik kata
Tawa luka tak lagi mampu terdengar telinga
Dengan gemuruh bisikan angin malam
Aku mencoba curi dengar dari pujangga

Jika langkah yang entah kemana tak lagi perkasa
Cahaya mulai memudar dipojok cakrawala
Ingin ku tebas rimba buta ini
Membiarkan sengatan sang dewa menyentuh kulit yang luka

Biarkan sang luka
Biarlah perih itu

Tinggallah dalam dekap lantunan nada sumbang sang malam
Bertahanlah bersama derasnya hujan yang tajam

Jika nanti rembulan bertemu awannya
Aku ingin memperdengarkan lagu rindu itu
Agar mereka mengerti
Dan lalu berdansa dengan lagunya

Bila malam terlalu jauh
Akan ku jemput senja untukmu

Bukan malam yang pekat
Bukan Malam yang memisahkan
Bukan Malam yang membutakan

Gemuruh itu yang menulikan kita
Belukar dan rimba yang menjadi dindingnya
Duri dan ranting yang entah mengapa telalu tajam menusuk

Jika nanti tiba waktunya malam
Biarkan aku melihat rembulan menari
Dalam gerakan anggun bersama awan malam

Jika nanti mentari dipisahkan dari awannya
Lepaskanlah lara bersama sengatannya

Inilah kerinduan
Ingin menggenggam malam 
Menunggu lagu sumbangnya
Disini aku duduk tidak dengan siapa-siapa


Rach

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...