Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya.
Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya.
Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api.
Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi.
Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam.
Bumi masih merindukan hujan.
Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta?
Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan?
Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang mengerling?
Haruskah bertanya pada Tuhan? Ketika tangan-tangan nakal memantik api dengan mudahnya?
Mengapa harus bertanya pada Tuhan jika jawaban ada ditangan manusia?
Ini bukan hanya Riau ku. Aku tak pernah dilahirkan di tanahnya. Ini juga Riau mu. Engkau yang dalam akte kelahiranmu tertulis wilayahnya.
Mengapa kita biarkan napas kita sesak? Mengapa kita biarkan paru-paru menjadi korban? Mengapa kita biarkan biru langit memudar? Mengapa kita biarkan hutan membara? Mengapa kita biarkan hujan jengah pada kita? Mengapa kita biarkan bumi galau karena merindu?
Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya.
Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api.
Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi.
Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam.
Bumi masih merindukan hujan.
Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta?
Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan?
Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang mengerling?
Haruskah bertanya pada Tuhan? Ketika tangan-tangan nakal memantik api dengan mudahnya?
Mengapa harus bertanya pada Tuhan jika jawaban ada ditangan manusia?
Ini bukan hanya Riau ku. Aku tak pernah dilahirkan di tanahnya. Ini juga Riau mu. Engkau yang dalam akte kelahiranmu tertulis wilayahnya.
Mengapa kita biarkan napas kita sesak? Mengapa kita biarkan paru-paru menjadi korban? Mengapa kita biarkan biru langit memudar? Mengapa kita biarkan hutan membara? Mengapa kita biarkan hujan jengah pada kita? Mengapa kita biarkan bumi galau karena merindu?
Comments