Skip to main content

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati
Ketika sepi ia merasa sendiri
Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi

Ini hati
Tergeletak di tepi bingkai jendela
Kala mentari menerobos sela-selanya
Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati

Ini hati
Bercengkrama dengan daun-daun keladi
Melepas tetes demi tetes air di atasnya
Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi

Ini hati
Bergumul dengan sendiri
Masih menanti yang telah pergi
Meski ia tahu harus rela sendiri

Ini hati
Tergelitik oleh rambutan yang jatuh
Ternoda getah yang enggan pergi
Meski telah dicuci dan dicuci lagi

Mana hati?
Mungkin sedang ke kali
Mengail udang yang sedang lengah
Atau berenang bersama belut

Itu hati
Sedang berdiri di tepi bingkai jendela
Bertegur sapa dengan mentari
Melepas mentari pergi ke peraduannya

Ini hati
Menanti fajar datang lagi
Agar kembali bertemu sang mentari

Hati?
Iya, hati
Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...