Bernapas tanpa udara,
Hanya sebuah ilusi yang tak mampu membendung rasa.
Terpaut dalamnya luka yang menganga.
Membantuku tetap berdiri tegak dalam upaya ku menemukan cerita.
Bait-bait kata yang teruntai membuatku semakin bernyawa,
Menatap warna dalam kata,
Entah berapa lama lagi sang pujangga mampu mengoreskan tintanya.
Hanya menatap lugu kedalam hitamnya pekat sang luka.
Kabahagian seringkali tidak kita sadari
keberadaanya, hanya setelah kita kehilangan kebahagiaan itu pergi, kita merasa
kehilangan.
Luka dan
air mata sering kali menenggelamkan kebahagiaan dari permukaan ingatan kita,
sehingga tak terlihat sempurna. Selalu saja segala sesuatu tampakleih uruk dari
kenyaannya. Sementara itu, orang lain selalu terlihat lebih beruntung dari
kita. Tapi benarkah?
Benarkah
mereka seeruntung yang kita lihat? Benarkah kehidupan seburuk yang kita
rasakan?
Hitam
pekat sang malam dalam hidup kita akan terasa lebih menyenangkan saat kita
maknai secara berbeda. Ingat, kegelapan akan membantu kita untuk leih mudah
tertidur, dan saat terbangun sinar terang sang mentari menjadi milik kita.
Sedikit
luka yang menggores jari kita, mengingatkan kita tentang etapa cerobohnya kita.
Bekas luka itu mungkin akan hilang dengan sendirinya bila tak terlalu dalam,
namun akan tetap membekas bila luka itu cukup dalam. Bekas luka ini akan
menjadi pengingat kita untuk lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu agar
tidak lagi terluka.
Ada
banyak cerita yang isa kita bagi pada mereka.
Tentang
cinta, luka, dan betapa gelapnya sang malam.
Nikmatilah
malam mu,
Rasakan
dan pahamilah lukamu,
Ingatlah
selalu tentang cinta.
Milikilah
bahagiamu dengan segala yang kau miliki, karna senyuman adalah milik mereka
yang mampu memiliki kebahagiaan, bukan yang terlihat bahagia.
Comments