Skip to main content

corat coret




Bernapas tanpa udara,
Hanya sebuah ilusi yang tak mampu membendung rasa.
Terpaut dalamnya luka yang menganga.
Membantuku tetap berdiri tegak dalam upaya ku menemukan cerita.
Bait-bait kata yang teruntai membuatku semakin bernyawa,
Menatap warna dalam kata,
Entah berapa lama lagi sang pujangga mampu mengoreskan tintanya.
Hanya menatap lugu kedalam hitamnya pekat sang luka.

Kabahagian seringkali tidak kita sadari keberadaanya, hanya setelah kita kehilangan kebahagiaan itu pergi, kita merasa kehilangan.
Luka dan air mata sering kali menenggelamkan kebahagiaan dari permukaan ingatan kita, sehingga tak terlihat sempurna. Selalu saja segala sesuatu tampakleih uruk dari kenyaannya. Sementara itu, orang lain selalu terlihat lebih beruntung dari kita. Tapi benarkah?
Benarkah mereka seeruntung yang kita lihat? Benarkah kehidupan seburuk yang kita rasakan?
Hitam pekat sang malam dalam hidup kita akan terasa lebih menyenangkan saat kita maknai secara berbeda. Ingat, kegelapan akan membantu kita untuk leih mudah tertidur, dan saat terbangun sinar terang sang mentari menjadi milik kita.
Sedikit luka yang menggores jari kita, mengingatkan kita tentang etapa cerobohnya kita. Bekas luka itu mungkin akan hilang dengan sendirinya bila tak terlalu dalam, namun akan tetap membekas bila luka itu cukup dalam. Bekas luka ini akan menjadi pengingat kita untuk lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu agar tidak lagi terluka.

Ada banyak cerita yang isa kita bagi pada mereka.
Tentang cinta, luka, dan betapa gelapnya sang malam.

Nikmatilah malam mu,
Rasakan dan pahamilah lukamu,
Ingatlah selalu tentang cinta.

Milikilah bahagiamu dengan segala yang kau miliki, karna senyuman adalah milik mereka yang mampu memiliki kebahagiaan, bukan yang terlihat bahagia.

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...