lirih aku berucap kala malam memeluk mesra bumi ku
bertatap muka dengan secercah sinar rembulan
dan mengadu pada kerlip nakal sang bintang
lihatlah wahai langit, ini Indonesia ku
tempat dimana kakek ku menumpahkan darah untuk ku
untuk peradaban yang lebih beradab dalam sejarah
dimana sang merah putih berkibar dengan gagah di langit biru
lihatlah rembulan, ini tanah air ku
yang kini mulai menangis bersama generasi ku
dengarlah wahai bintang kecil, ini tanah tumpah darah ku
tak pernah akan ku biarkan ia terluka karna ku
akan ku hapus derai air mata dari pipinya
dan biarkan aku untuk merayu
bukan lagi dengan darah dan keringat aku akan maju
tak kan lagi seperti generasi kakek ku
yang berjuang dengan tombak dan mesiu
ku tahu kini bukan lagi saatnya mengadu
tapi untuk mulai mengatur ilmu
dengan hati nurani mulai bergerak maju
tak selangkahpun akan surut dan urung langkah ku
bukan lagi dengan tombak dan mesiu
bukan seperti generasi kakek ku
akan aku teriakkan dengan lantang pada mentari yang garang
ini Indonesia ku
ini tanah air ku
ini tanah tumpah darah ku
kita telah merdeka
saatnya kita untuk bersuara
sudah waktunya untuk berkarya
dengan cita dan cinta
bukan dengan tombak dan mesiu
bukan seperti generasi kakek mu
saatnya untuk saling memeluk dan nenggenggam
waktunya untuk berteriak lantang
jangan ragu dan jangan bimbang
waktunya untuk kita terbang
dari sabang hingga merauke terbentang
tanah air tempat merah putih berkibar garang
tanah yang merdeka
tanah kita tercinta
ibu pertiwi bukan untuk berduka
nusantara bukan untuk terlupakan
teriakkan pada dunia
ini Indonesia
tanah yang kaya
tanah yang aku cinta
tanah yang akan merangkul dunia
tugas kakek kita telah usai
berperang dengan tombak dan mesiu
bertaruh peluh dan darah
berlumur luka pada setiap raga
kini waktunya untuk kita berkarya
dengan ilmu dan cinta
dengan cita yang membara
berkata pada dunia
tentang Indonesia
Ini tanah tumpah darah ku
Comments