Skip to main content

Menikmati Sakit



Menikmati sakit? Emang bisa? Yang bener aja, sakit gitu lho.
Yap, bisa banget.
Belum lama ini gue baru abis menikmati sakit. Waktu gue nulis tulisan ini, gue baru ngabisin obat gue.
“ Tidaklah seorang muslim terimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah SWT akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohonvyang menggugurkan daun-daunnya” H.R Muslim
Nah, itu adalah salah satu dari nikmat sakit.
Well, kalo menurut pandangan gue pribadi, sakit itu nikmat. Kenapa? Ada banyak hal sih yang bisa dinikmati dari sakit. Selain dari yang udah dijelasin dari Hadist diatas, masih banyak lagi nikmat sakit yang bener-bener harus kita syukuri dan nikmati. Apa aja?
-      Istirahat. Istirahat? Iya, istirahat. Gue pribadi sering banget yang namanya begadang. Sebenernya nggak niat begadang sih, tapi mata yang nggak mau diajak merem. Selama gue sakit beberapa hari kemarin, alhamdulillah gue bisa tidur lebih awal, bangun lebih awal. Pas bangun, alhamdulillah badan makin seger. Gak kaya biasanya yang tidur pagi, bangun kesiangan dan pas bangun badan masih lemes dan pegel semua. Pokoknya, selama gue sakit kemarin, istirahat gue jadi cukup, gak pernah begadang lagi, dan jadi lebih teratur.
-      Perhatian. Apa gue kurang perhatian? Nggak juga sih. Tapi gini deh, coba bayangin ya, gue itu orangnya cueknya kebangetan, ngomongnya kasar, ketus, jutek, to the point, nggak pinter bermanis-manis ria. Tiba-tiba pas gue pucet banget dan lemes, jadi pada perhatiin gue. Ada yang ngurutin tangan gue, ada yang ngurutin bahu, ada yang ngelapin keringet, ada yang ngipasin, disemangatin, terakhir dianterin pulang. Tiap bentar ada yang nanyain “udah makan?”, “udah minum obat?”, “jangan lupa makan buah”, “banyakin minum air putih”, “banyakin istirahat” dan masih banyak lagi. Dan itu bukan dari pacar (ya iyalah, wong gue jomblo). Tiba-tiba gue kebanjiran perhatian saat sakit. Jadi terharu. Padahal Cuma batuk flu doang.
-      Pola makan membaik. Anak kos bandel dan males makan kaya gue, pas sakit baru tau akibatnya kalo makan nggak dijaga itu buruk. Dan selama sakit kemarin, mau nggak mau harus benerin pola makan. Makan harus tiga kali sehari karna harus minum obat, harus makan sayur dan buah, harus banyak minum air putih (ok, gue paling rajin minum emang sih). Gue termasuk anak kos yang paling males banget makan (tapi herannya badan gue nggak mau kurus). Males makan bukan karna niat diet ya. Tapi ya, males aja makan. Kadang gue cuma makan sekali sehari, tanpa cemilan, cuma minum kopi doang sebagai tambahan asupan gula.

Masih mau ngeluh karna sakit? Kayanya gue udah nggak mau lagi deh. Sakit itu karna kita sendiri yang nggak bisa jaga kesehatan kita. Udah gitu Allah baik banget lagi, mau ngampunin dosa kita waktu kita sakit. Tambah lagi jadi banyak yang perhatian sama kita (emot lope-lope).
Makasih banget ya, buat semua yang udah mau perhatian dan ngasih masukan yang walaupun pake ngomel tetep aja dengan nada sayang. I love you all.

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...