Skip to main content

Selamat Kepada Presiden Terpilih

Hari ini adalah penentuan dari pesta puncak demokrasi lima tahunan bangsa Indonesia. Hari ini adalah hari detetapkannya Presiden pilihan rakyat Indonesia. Suara terbanyak adalah pemenangnya. Dengan proses yang tidak mudah, dengan dana yang tidak sedikit, dengan waktu yang tidak sebentar, dan dengan persiapan yang tidak kurang, akhirnya, hari ini satu nama baru ditorehkan dalam lembaran sejarah Indonesia sebagai Presiden yang akan memimpin negara tercinta ini dalam satu periode lima tahunan.
Satu nama yang masih baru, segar, cukup akrab terdengar dan muda. Joko Widodo telah ditetapkan menjadi pemenang Pemilihan Presiden Indonesia 2014 untuk periode 2014-2019, dengan didampingi mantan Wakil Presiden Jusuf Kala yang kini telah menjadi pasangan Jokowi sebagai Wapres kembali.
Selamat kepada pasangan terpilih.
Kepada pasangan terpilih, genggamlah amanah ratyat, jangan nodai kepercayaan yang telah diamanahkan kepada anda.
Kepada pasangan yang tidak terpilih, saya yakin, anda adalah negarawan sejati yang menghargai pilihan rakyat Indonesia. Jadi, tetap harus berbesar hati menerima kekalahan ini.
Kepada pendukung no.1, mari kita memberikan selamat dengan besar hati. Kepada pendukung no.2, mari kita merayakan kemenangan ini dengan benar.
Kepada pendukung no.1&2, mari kita menjadi 3 untuk "PERSATUAN INDONESIA"
Kepada seluruh rakyat Indonesia, mari kita bersama-sama mengawal jalannya pemerintahan selama lima tahun mendatang.
Dukung peogram kerja positif Presiden terpilih, bantu wujudkan Visi dan Misi agar Indonesia lebih baik lagi. Kritisi kesalahan dan kekeliruan yang disengaja maupun yang tidak disengaja Pemerintahan terpilih, agar tetap berjalan di koridor yang kita harapkan, koridor yang menuju kegemilangan Indonesia.
Buktikan kita peduli. Buktikan kita mencintai Ibu Pertiwi. Buktikan kita satu suara, suara Rakyat Indonesia yang bersatu.

Selamat kepada pasangan Joko Widodo - Jusuf Kalla

Kami akan mengawal mu hingga akhir masa jabatan mu

Untuk Indonesia ku
Untuk Ibu Pertiwi
Untuk cinta kami pada negeri tercinta

Harapan Rakyat Indonesia terlalu besat untuk diabaikan.

Selamat menjalankan tugas pasangan Presiden dan Wakil terpilih.

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...