Skip to main content

Nasib Kartu Remi

Gimana kalo ada anak nemu satu deck kartu remi? Kira-kira, apa yang bakalan dilakuin sama orang tuanya?
Kebanyakan orang tua bakalan bilang "heh, gak boleh mainan itu. Dosa. Itu kartu judi," padahal si anak ini belum ngerti arti judi. Terus, gimana kalo si anak nanya lagi "judi itu apa ma?" apa kita bakal jawab "judi itu main kartu itu," gitu? Terus, ikutan kuis bukan judi? Bukannya mengundi nasib itu juga haram? Malah, semacam judi kan?
Anak kan rasa ingin tahunya masih tinggi ya, gimana kalo si anak malah cari tau tentang judi dan malah tertarik?
Kenapa gak kita arahkan anak ke arah lain?
Pas si anak nanya tentang kartu itu, kita jawab gini "ini namanya playing card atau kartu remi. Kita bisa main sulap pake kartu ini," gitu?
Kira-kira reaksi anak gimana?
Kali aja bakat anak kita jadi pesulap, dari satu deck kartu remi tadi dia bisa jadi cardician? (gitu bukan sih tulisannya?) Itu lho, sulap yg mainnya kartu-kartu gitu.
Atau kita bisa jawab gini "ini bisa kita bikin piramida. Yuk kita bikin sama-sama piramidanya," sambil si anak kita ajak bikin piramida kartu. Repot sih ngerjainnya, gue aja gak pernah bisa tinggi bikinnya. Tapi kalo si anak rupanya minatnya jadi arsitek, kan malah bagus.
Dari yang sering gue denger sih, anak itu alam pikiran bawah sadarnya masih mendominasi. Jadi, dia gak kenal kalimat negatif. Jangan main judi, dimaknai jadi main judi. Masih kecil udah dikenalin judi? Gimana gedenya?
Kalo dari kecil dikenalin sulap, kali aja gedenya punya toko alat sulap (eh). Yah, gitulah pokoknya.
Kartu remi itu cuma kartu. Kita yang memaknai kartu itu. Bakalan jadi apa kartu itu, ya terserah kita. Jangan salahin kartunya.
Gitu aja deh.
Udah ngantuk.

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...