negeri di atas awan
terdengar seperti judul dongeng?
inilah kami
inilah negeri ku
di sanalah aku tinggal kawan
yah, negeri di atas awan
bukan, bukan sayang
bukan dengan mentari yang tak pernah berhenti tersenyum
bukan beratapkan hamparan permadani bertahtakan bintang
bukan tempat yg selalu disapa oleh rembulan
negeri ku suram, kawan
tanpa langit, tanpa hujan
tak ada warna yang menghiasinya bak lukisan
hanya kelabu dan sedikit panas dari api
dengan udara yang kian terkontaminasi
indah?
tidak sayang, tidak terlihat indah
lihatlah aliran sungai ku
terlihat menggiurkan, sewarna teh
lihatlah bentangan hutan ku
merah membara, melumatkan tawa
lihatlah kebun kebun di sana
tak perlu ku hitung banyaknya uang yang dihasilkan sawitnya
sudah?
kini coba lihat aku
terasa sangat sulit bernapas di sini kawan
tenggorokan ku sakit
ayah dan ibuku terjaga sepanjang malam mendengar anaknya terbatuk
kawan
adakah biasan warna pelangi masih indah?
sampaikan padanya rasa rindu ku
bukan
bukan hanya untuknya
untuk hijau hutan ku
untuk biru langit ku
untuk sengat terik mentari
untuk kerlip indah sang bintang
untuk senyum tulus rembulan
aliran sejuk sungai yang jernih
nyanyian selamat pagi dari burung burung
orkestra indah binatang malam
semuanya
lihat?
asap ku makin tebal
makin pekat
makin berbahaya
ibu melarang ku bermain di luar rumah
sungguh
bahkan di halaman rumah ku sendiri
katanya, sama bahayanya dengan bermain di tengah jalan
siapakah yang masih peduli pada kami?
presiden?
dimana dia?
gubernur?
mungkin dia terlalu lelah
pengusaha yang lahannya terbakar?
ia mungkin tengah menikmati uangnya kini
tuhan
hanya ialah yang masih kami miliki
tapi, mungkin tuhan juga lelah melihat tingkah kami
sehingga tak lagi ada hujan untuk negeri ku
adakah yang masih peduli?
kami tinggal di negeri di atas awan yang tak terjangkau
bahkan oleh pesawat terbang
adakah yang masih peduli?
kami mati perlahan
adakah yang masih peduli?
dengan cerita di balik awan?
lihatlah kami
yang tinggal di negeri di atas awan.
rach
Comments