Skip to main content

Negeri diatas Awan

negeri di atas awan

terdengar seperti judul dongeng?
inilah kami
inilah negeri ku
di sanalah aku tinggal kawan
yah, negeri di atas awan

bukan, bukan sayang
bukan dengan mentari yang tak pernah berhenti tersenyum
bukan beratapkan hamparan permadani bertahtakan bintang
bukan tempat yg selalu disapa oleh rembulan

negeri ku suram, kawan
tanpa langit, tanpa hujan
tak ada warna yang menghiasinya bak lukisan
hanya kelabu dan sedikit panas dari api
dengan udara yang kian terkontaminasi

indah?
tidak sayang, tidak terlihat indah

lihatlah aliran sungai ku
terlihat menggiurkan, sewarna teh
lihatlah bentangan hutan ku
merah membara, melumatkan tawa
lihatlah kebun kebun di sana
tak perlu ku hitung banyaknya uang yang dihasilkan sawitnya

sudah?
kini coba lihat aku
terasa sangat sulit bernapas di sini kawan
tenggorokan ku sakit
ayah dan ibuku terjaga sepanjang malam mendengar anaknya terbatuk

kawan
adakah biasan warna pelangi masih indah?
sampaikan padanya rasa rindu ku

bukan
bukan hanya untuknya
untuk hijau hutan ku
untuk biru langit ku
untuk sengat terik mentari
untuk kerlip indah sang bintang
untuk senyum tulus rembulan
aliran sejuk sungai yang jernih
nyanyian selamat pagi dari burung burung
orkestra indah binatang malam
semuanya

lihat?
asap ku makin tebal
makin pekat
makin berbahaya
ibu melarang ku bermain di luar rumah
sungguh
bahkan di halaman rumah ku sendiri
katanya, sama bahayanya dengan bermain di tengah jalan

siapakah yang masih peduli pada kami?
presiden?
dimana dia?
gubernur?
mungkin dia terlalu lelah
pengusaha yang lahannya terbakar?
ia mungkin tengah menikmati uangnya kini

tuhan
hanya ialah yang masih kami miliki
tapi, mungkin tuhan juga lelah melihat tingkah kami
sehingga tak lagi ada hujan untuk negeri ku

adakah yang masih peduli?
kami tinggal di negeri di atas awan yang tak terjangkau
bahkan oleh pesawat terbang

adakah yang masih peduli?
kami mati perlahan

adakah yang masih peduli?
dengan cerita di balik awan?

lihatlah kami
yang tinggal di negeri di atas awan.

rach

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...