Skip to main content

kue?

Malam ini judulnya lagi iseng aja mau posting tulisan.
Siang tadi baru beres bikin 2 kue itu, dan sekarang (sekitar setengah satu pagi) tumit terasa berdenyut riang. Mata sepet tapi gak mau merem, padahal harus sekolah paginya.
Temen gue penah bilang "kita buka orderan yuk kak," ide yg sebelum dia ngomong gitu gak pernah kepikiran.
Karna gue suka ngoprek dapur sama mainan cabe, bawang, bubuk lada dekaka, gue punya mimpi buat punya restauran sendiri. Karna gue jatuh cinta sama kopi, gue pengen punya coffee shop sendiri. Tapi walaupun gue suka liat bentuk2 kue yg cantik, suka liat orang bikin cake decoration, dan suka makan kue, baru setelah diajakin buka orderan kuelah gue kepikiran jualan kue.
Selama ini gue gak pernah nge-frosting kue. Kue pertama yg gue hiasin adalah kue buat ulang tahun cowok yg namanya gak perlu disebutin. Lagian gue juga gak kenal ini sama orangnya. Tapi ini temennya temen gue. Kata orang sih bagus, kata gue? Berantakan. Itu kue dua buah yg barusan gue bikin itu juga jauh dari sempurna.
Tapi sekarang gue mulai serius mikirin buka orderan kue. Seserius impian gue punya lamborghini aventador warna siver. Seserius gue punya rumah dengan halaman yg luas banget, sampe ada kolam sama tamannya. Seserius gue pengen punya rumah baca yg bernuansa alam.
Buka orderan kue, buka lapak warung kopi, buka resto, semua detainya udah di kepala gue.
Tinggal nunggu modal aja.
(kali aja ada milyarder baik hati yg mau modalin) :-P
Semua yg gue impikan ini, bukti bahwa dapur bukan cuma sekedar urusan ibu rumah tangga (bukan tetangga ya) aja.
Mimpi ini, bukti bahwa spatula pun bisa terlihat keren.
Bismillah, mulai mencari relasi.

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...