Skip to main content

Melunasi Janji Kemerdekaan

Yah, kalimat inilah yg menggerakkan ribuan pemuda Nusantara untuk ikut "Turun Tangan". Sebuah gerakan yg diinisiasi oleh tokoh fenomenal Indonesia, Anies Baswedan.

Turun Tangan, bukan gerakan jangka pendek untuk mengampanyeka seorang tokoh tertentu. Benar, gerakan ini diinisiasi oleh Anies Baswedan. Benar, kami disatukan oleh satu nama. Benar, kami menggunakan atribut dengan embel-embel Anies Baswedan. Namun, apakah mutlak gerakan ini hanya sebagai sarana mengumpulkan suara dukungan untuk inisiator?

Turun Tangan, siapa saja orang-orang didalamnya? Orang-orang yang peduli terhadap bangsa Indonesia. Orang-orang yang siap membantu melunasi janji kemerdekaan.
Dengan cara apa? Ada banyak hal tentunya. Meski terkadang hanya terlihat seperti sekedar kumpul-kumpul, namun ada banyak sekali ide tercetus dari kumpul-kumpul tersebut.

Turun Tangan tidak harus rame-rame? Benar. Tapi, kalau kita mengerjakannya sendirian, bukankah akan terasa lebih berat?

Anies Baswedan, tokoh yang menginisiasi gerakan ini, kini telah menempati posisi Menteri dalam kabinet Kerja pemerintahan Presiden Jokowi.

Pertama, selamat kepada Anies Baswedan. Semoga tetap amanah.
Kedua, selamat kepada relawan-relawan Turun Tangan. Semoga tetap bersatu padu. Tetap berjuang untuk melunasi janji kemerdekaan.

Perjuangan belum usai. Kita baru saja akan memulai langkah kita. Bersama-sama kita membangun bangsa. Dimulai dari hal terkecil di sekitar kita, tentunya.

Pajuang bukan?

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...