Skip to main content

Kenapa Bertahan di Turun Tangan

Turun Tangan apa sih?
Tangan diturunin?
Atau tangannya taruh dibawah?
Atau apa?

Mungkin banyak yang belum tau, apa itu Turun Tangan. Tapi gue yakin, banyak juga yang paham atau minimal pernah denger apa itu Turun Tangan.
Ini gue kasih tau buat yang belum tau, dan mengingatkan lagi buat yang udah tau.
Jadi, Turun Tangan.
Gerakan ini diinisiasi orang "gila" di Indonesia. Awalnya buat ngedukung ini orang buat maju ke RI 1 Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 kemaren. Tapi sayangnya, gak jadi nyapres.
Iya, bener. Sekarang beliau udah jadi Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah (bener ini gak sih namanya?), Anies Rasyid Baswedan.
Rasanya, kalo sekarang gue bahas kenapa gue milih ikut Turun Tangan udah basi banget ya. Pilpres udah lewat, Anies Baswedan udah jadi Menteri. Jadi gue mau cerita dikit, kenapa gue masih bertahan di Turun Tangan.

Mulai dari, keluarga baru.
Iya, gue dapet keluarga baru disini, di Turun Tangan ini. Adek, abang, kakak, bahkan bapak sama ibuk. Temen-temen yang gak cuma ngomongin Politik. Temen yang juga bisa diajak berbagi ide dan cita-cita. Temen buat sekedar duduk sambil makan kolak dingin (kolding) di pinggir jalan, belakang kantor Gubernur. Temen nonton bareng sambil ngomong ngalor-ngidul. Sampe temen yang bisa dipeluk waktu gue butuh pelukan. Ini keluarga buat gue. Paling gak, itu menurut gue.

Melunasi janji kemerdekaan. Mungkin ini terdengar muluk. Iya, muluk banget. Kalau, gue ngerjain ini sendiri. Tangan gue cuma dua, badan gue satu. Lagaknya mau melunasi janji kemerdekaan. Janji yang mana yang bisa gue lunasin? Gak ada. Gak sanggup gue gerak sendiri.
Analoginya gini, sampah ada tersebar diseluruh halaman rumah lo, kalo nyapu cuma pake lidi sebatang, bukan sampah yang ilang, malah lidi lo yang patah. Cari lidi lain, gabungin jadi satu, ikat kuat-kuat, bikin jadi sapu, bisa lo pake nyapu. Kalo masih ada lidi yang patah? Semoga itu lidi bukan lo. Yah, artinya dia dengan alasannya sendiri gak bisa bantu lo bersihin halaman rumah lo. Bisa jadi, sampahnya lengket banget di tanah karna abis ujan. Mungkin dia rapuh, jadi gak kuat buat nyapu halaman segitu gedenya. Atau, dia lebih bisa dimanfaatkan dengan cara lain. Intinya, tetap bersihkan halamannya dengan lidi-lidi lain yang masih kokoh jadi sapu itu.
Siapa lidi yang kokoh? Pemuda. Atau, paling gak, orang tua berjiwa muda. Nah, disini, di Turun Tangan ini, itulah isinya. Bapak (yang, maaf, gue lupa nama beliau) dan ibu Yulhaida (istri Bapak) semangatnya gak perlu diragukan lagi. Lo yang ngerasa muda, bisa jadi lo minder sama semangat muda beliau ini.
Pemudanya? Gokil. Ide-idenya brilian. Artinya, ini orang-orang yang cukup "gila" buat jadi "sapu lidi" halaman rumah rakyat Indonesia.

Next, Indonesia butuh kita. Indonesia butuh semua orang yang mengaku rakyat Indonesia buat ikut andil dalam hal pembangunan. Apa yang dibangun? Semuanya. Sampah depan rumah lo, siapa yang harus beresin? Penghematan bahan bakar, siapa yang harus jalanin? Kelestarian alam, siapa yang harus jagain? Kita. Kita semua. Yang ngakunya orang Indonesia. Ini tanggung jawab kita semua.
Jangan cuma teriak-teriak minta Presiden turun beresin semua masalah kecil disekitar kita.
Kita dulu yang gerak, ntar dibantu sama peraturan Perundang-undangan yang udah di bikin.
Kata Anies Baswedan "jangan mengutuk kegelapan, mending idupin lilin yang ada" kurang lebih gitu lah. Kalo gak punya lilin? Please, jaman sekarang. Lo punya lampu emergency kan? Gak punya? Senter? Gak punya juga? Hand phone pasti punya. Intinya, kalo rumah lo listriknya padam, gak perlu teriak2 manggil pak RT, gak perlu ngutuk PLN, idupin cahaya buat rumah lo sendiri. Jangan mau kalah sama tetangga yang punya lampu teplok (lampu minyak, kalo gak tau).

Indonesia ini terlalu besar buat diurus Presiden. Presiden satu, Indonesia juga satu sih, tapi GEDE. Luas. Gak sanggup Presiden sendirian.
Tugas kita? Bantu jalanin sistem yang udah ada. Mengawasi jalannya pemerintahan. Yang bagus dijalankan, yang kurang bagus dikritisi. Kasih bantu masukan solusi. Jangan cuma koar-koar, "pemerintahan lo jelek, berantakan, gak becus". Nah, ini penyakitnya sebagian besar orang nih. Kaya suporter bola. "gila, itu bola gampang kok gak gol juga, bego tuh pemainnya". Yah, lo kira ngurusin negara kaya bikin tempe goreng? Bikin Tempe goreng aja gak semua orang bisa kan?
Kasih masukan. Bantu ide. Kritisi, bukan sekedar protes kaya orang gak sekolah. Orang gak sekolah gak bego, tapi gak belajar, jadi gak ngerti. Kalo lo berpendidikan, karna udah belajar, harusnya lebih ngerti. Benerkan?

Perubahan di Indonesia ini tugas siapa? Presiden? Anggota DPR? Menteri? Mahkamah Agung?
Iya sih, mereka juga harus terlibat. Tapi, apa itu cuma tugas mereka? Bukan. Ini tugas KITA. Iya, KITA. Kita semua, yang ngakunya cinta Indonesia. Kita semua yang ngakunya Rakyat Indonesia. Kita semua, yang ngakunya peduli sama Indonesia. Kita semua, yang mengharapkan perubahan.
Lagi-lagi, gue harus bilang, Indonesia terlalu besar. Jadi, kita bisa mulai dari hal terkecil disekitar kita. Apa? Pertama jangan jadi orang bego. Perkaya ilmu, minimal diri lo sendiri. Terus belajar. Belajar terus. Kedua, peduli. Belajar peduli sama sekitar. Lingkungan terdekat aja dulu, gak perlu muluk-muluk yang luas. Next, ikhlas. Iya, ikhlas. Harus, kudu, mesti, mutlak, ikhlas. Gak ikhlas? Repot, lo bakal capek sendiri. Mungut sampah di jalan gak digaji bro, tapi gak enak aja lihat jalan ada sampahnya. Dimulai dari diri sendiri. Pelan-pelan aja dulu.

Nah, biar gak sendiri. Biar gak terlalu pelan, biar cakupannya lebih luas, disinilah gue milih untuk tetap bertahan di Turun Tangan.

Turun Tangan gak cuma ngurusin politik doang.
Gak cuma mau naikin nama satu orang aja.
Bukan cuma sekedar bahan kampenye.

Turun Tangan lebih dari itu.
Ini gerakan keren.
Perpanjangan tangan dari pemerintah.
Tugasnya? Macem-macem. Kaya nasi rames. Ada nasinya, ada sayurnya, ada kuah gulainya, ada ayam panggangnya (oke, gue jadi pengen makan nasi rames).

Gue gak tau, kenapa banyak yang mundur dari Turun Tangan. Jangan tanya gue. Intinya, sendiri atau rame-rame, gue masih bakal terus milih Turun Tangan.

Pejuang Bukan?
Hadapi!

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...