Skip to main content

Patah Hati Terhebat

Ini ceritanya gue abis buang-buang kalori buat ngantri minta tandatangan penulis yang udah lama gue ikutin bukunya.
Iya, si Kambing Jantan.
Judul di atas itu adalah salah satu judul bab yang ada di buku barunya makhluk astral satu ini.
Koala Kumal.
Astral karena dia gak pernah konsisten menentukan jenis binatang apakah dirinya.
Patah Hati Terhebat
Cerita tentang Trisna yang pernah patah hati dan sangat sakit. Jujur, baca bab ini gue sampe nangis bombay.
Karena?
Gue tau apa yang Trisna rasakan. Gue pernah ada di posisi itu. Dimana gue gak benar-benar ingat apa yang terjadi. Semua gelap, suara cuma terdengar samar-samar, badan oyong.
Gue ingat ada suara sirine ambulance, gue ingat dipeluk mamanya, gue ingat ada pemakaman, tapi seolah-olah gue gak disitu. Seolah-olah itu cuma bayangan dari mimpi buruk. Seolah-olah itu bukan hal nyata.
Gue ingat rasa sakitnya.
Sakit yang sampai saat ini juga gue belum bisa gue lupakan.
Ketika lo ditinggal putus atau selingkuh, lo bisa nyalahin seseorang. Entah itu diri lo sendiri, si mantan yang udah ninggalin lo, atau orang ketiga yang jadi penyebab kandasnya hubungan lo. Tapi ketika lo ditinggal "pergi" ke surga, lo gak tau harus nyalahin siapa.
Dalam kasus gue, cowok gue juga ketabrak. Siapa yang harus gue salahin? Si penabrak? Bisa jadi cowok gue juga salah. Kita gak tau kan? Cowok gue sempat bertahan sekitar 24 jam, dan korban lainnya, yang katanya nabrak, malah meninggal di tempat. Nyalahin diri sendiri? Judulnya, kejadiannya jauh banget dari tempat gue tinggal. Beda pulau. Nyalahin Tuhan? Terus, Tuhan bilang "itu nyawa, gue yang punya. Mau gue ambil sekarang atau besok, ya terserah gue".
Gue salah ngambil bab ini ketika gue pengen ketawa.
Tapi, secara keseluruhan, isi buku ini bagus. Lebih serius, lebih dewasa, lebih pakai hati.
Yah, meskipun harus nangis bombay karna bab ini.
Judulnya sih mau minta pertanggung jawaban sama si penulisnya.

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...