Skip to main content

Untuk Apa

Anak-anak memang unik. Mereka memiliki pola pikir sendiri yang sering kali tidak mudah dimengerti kebanyakan orang dewasa. Cara berpikir mereka sederhana dan luar biasa.
Pagi ini, gue berangkat ke sekolah dengan tanpa pikiran aneh. Pagi yang normal, senormal matahari yang bersinar cerah di Pekanbaru. Melangkah dengan tenang dan disambut senyum penuh suka anak-anak gue.
Yah, hari ini judulnya gue datang terlambat ke sekolah karna satu dan lain hal.
Ketika anak-anak berlari menghampiri gue sambil teriak "ibuuuuk", sambil memeluk gue, bergelayutan, menarik tangan dan sebagainya, gue berpikir 'anak-anak ini sangat mencintai gue'. Yah, mereka mencintai dengan caranya yang unik. Polos dan tanpa pamrih.
Di kelas gue, ada satu anak yang sangat kritis. Namanya Ghani, tapi dipanggil Uda. Iya, uda yang itu. Uda memang orang Minang, dan di rumahnya uda adalah anak paling tua. Jadilah dia dipanggil uda.
Hari ini gue sama guru dari kelas sebelah kompakan mau ngasih anak-anak tugas. Tugasnya adalah "main air". Iya, main air. Tapi main airnya bukan hari ini. Hari ini adalah pembagian kelompok. Masing-masing kelompok harus menyediakan alat dan bahan yang akan dipakai untuk main air hari sabtu.
Uda kebagian membawa pewarna makanan warna kuning. Uda terus nyamperin gue, nanya "uda bawa apa bu?"
" Bawa pewarna makanan yang warna kuning ya nak".
" Untuk apa?"
" Untuk kita main air hari sabtu".
" Untuk apa?"
" Untuk main air nak".
" Untuk apa?"
" Main air, sayang".
" Untuk apa?"
" Hari sabtu, kita mau main air. Pewarnanya untuk kita main air".
" Untuk apa?"
Dan pertanyaan masih terus berputar di "untuk apa?"
Bukan, uda bukan anak berkebutuhan khusus. Uda normal. Sangat normal. Tapi uda sangat kritis.
Karna uda belum puas dengan jawaban gue yang dari tadi jawab "untuk main air", uda diam sebentar. Terus nanya lagi " Untuk apa main air?"
Nah, disitulah gue baru ngerti maksud uda yang sesungguhnya.
Oke, disini seolah-olah gue adalah guru yang nggak paham bahasa murid. Dan gue merasa galau. Iya, galau karna gak bisa ikut main air.

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...