Skip to main content

Generasi Muslim, atau Generasi Musim?

Pernah denger orang ngomong gini gak?
" ih, bajunya lucu ya. Besok beli ah. Lagi musim itu model yang gitu."
" jilbab kaya gini nih yang gue cari dari kemaren. Yang kaya dipake sama artis anu itu lho."
" ye, model jilbab gitu mah udah lewat, ganti dong. Sekarang model gini nih yang lagi ngetren."
Yakin deh. Pasti gak cuma gue doang yang pernah denger itu.

Jujur, gue seneng banget, makin kesini makin banyak artis-artis muda yang cantik-cantik pada pake jilbab. Pada nutup aurat. Jadi aja masyarakat luas udah nggak nganggap jilbab kampungan.

Waktu gue masuk SMA dulu, bisa dihitung jari cewek yang pake jilbab. Waktu masuk kuliah masih gak beda jauh. Sekarang, kalo ada cewek muslim yang gak pake jilbab di kelas, gue pikir jadi pihak minoritas.

Jilbab jaman sekarang juga udah nano-nano. Ada jilbab yang cantik, nutup aurat, sesuai syariah agama sampe nutup dada. Ada jilbab yang tinggal pasang udah cantik. Adalagi yang panjang tapi dililit-lilit jadi cuma ada di kepala, sampe kepalanya keliatan gede. Ada yang ....... Macem-macemlah.

Jujur sih ya, gue bukan yang pake jilbab gede, panjang, cantik dengan baju gombrang dan anggun. Gue lebih milih pake baju simple kaya yang dari dulu udah gue pake. Celana jeans model cowok (karena nggak ngetat di gue), baju yang nyaman, jilbab (yang katanya) model paris. Cuma jilbab segi empat biasa, polos, dan biasanya hitam atau dongker.

Tapi, gue paling demen nih liat akhwat-akhwat yang jilbabnya cantik itu. Keliatan anggun dan mahal.

Terus, yang lainnya gimana?

Sekarang ini, artis-artis yang jadi role model banyak yang pake jilbab cantik. Dengan aneka aksesoris, bentuk, model dan apalah namanya itu. Tutorial juga banyak beredar di internet. Jadi, orang-orang masih doyan pake jilbab. Pake segala macam kalung-kalungan, manik-manik, biar keliatan cantik.
Tapi, itu sekarang.

Gimana kalo nanti, suatu saat, na'udzubillahi min dzalik, model berganti. Artis-artis nggak lagi pake jilbab warna-warni, cantik, berkilau, berbunga-bunga.

Gimana kalo artis-artis dengan jilbabnya tenggelam di gusur arus? Digantikan artis-artis pamer dada? Artis-artis pamer paha? Mungkin bagus, kalo yang mereka pamerin dada sama paha ayam goreng jualan mereka. Tapi, gimana kalo yang mereka pamerin itu bagian tubuh mereka?

Gimana kalo jilbab kembali ke jaman kegelapan? Jilbab jadi mode kuno? Nggak lagi rame-rame di make over?

Masihkah generasi muda wanita-wanita cantik ini berjilbab? Masihkah ada yang dengan bangga menunjuk selembar jilbab yang digantung lemas penjual sambil bilang "ini nih yang gue cari"?

Coba tanya diri sendiri.
" apakah arti jilbab diatas kepala gue ini?"
" apa gue akan tetap pake ini nanti?"

Hayo
Kita ini generasi Muslim atau generasi musim?
Jawab sendiri ya ukhti.

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...