Indonesia, ditengah-tengah maraknya konflik
yang menggunung.
Rasanya, sudah lama sekali tulisan saya yang bebicara tentang nasionalisme terakhir saya publish. bukan berarti nasionalisme ini mulai luntur, bukan artinya saya berhenti bergerak, saya masih terus bergerak. sendiri ataupun bersama-sama. seperti yang pernah saya katakan disini, saya akan tetap turun tangan.
Yah, tak
sedikit yang berkeluh kesah dengan kondisi negara tercinta ini sekarang. Apa saja?
Mulai dari maraknya kejahatan di jalan raya, konflik KPK dan Polri yang
dilanjutkan ke season dua, mungkin nanti akan ada season tujuh seperti Cinta
Fitri. Kebakaran hutan yang sudah seperti musim duku yang sudah hampir dapat
diprediksi datangnya. Banjir dibeberapa daerah yang disebabkan bandelnya
masyarakat yang terus ngotot salah pemerintah.
Iya, banyak
sekali permasalahan-permasalahan yang jika kita tuliskan disini akan
menghabiskan banyak space.
Tapi, apakah
kita hanya bisa berkeluh kesah? Hanya bisa berteriak pada pemerintah untuk
membereskan masalah-masalah ini? berdemo di jalanan sambil membakar ban? Melempari
bom molotov ke kantor-kantor pemerintah? Lempar-lemparan batu dengan petugas
keamanan? Atau menunggu disemprot dengan gas air mata?
Jika anda
memilih jalan demikian, saya tidak ikut-ikutan.
Saya punya
jalan sendiri untuk menghadapi keluhan-keluhan saya. Kecil memang, tidak
spektakuler atau WAHH. Hanya usaha kecil yang mungkin tidak berdampak langsung
pada perubahan. Tapi saya yakin, jika hal kecil ini dilakukan bersama-sama,
akan berdampak cukup besar. Karena tugas kitalah untuk memenuhi janji
kemerdekaan bangsa Indonesia.
Pertama, jadilah pintar.
Iya, pintar.
Banyak membaca, banyak menggali informasi, banyak bergaul, banyak mencari tahu.
Tentang segala hal. Kalau yang anda saksikan hanya seliweran berita-berita
kriminal atau konflik Gubernur Ahok dengan DPRD Jakarta, selamat, anda
ketinggalan banyak informasi. Jaman sudah canggih. Ensiklopedia dunia ada di
genggaman anda. Manfaatkan teknologi itu. Mulailah dengan pasion anda. Misalnya,
anda pecinta kopi, anda bisa memulai browsing tentang kopi Indonesia. Tahukah anda,
Indonesia adalah eksportir terbesar ketiga di dunia? Tahukan anda kopi
Indonesia termasuk jajaran kopi terbaik dunia? Atau ternyata anda hanya
penikmat kopi sachet yang murah meriah? Salah satu janji kemerdekaan adalah “mencerdaskan
kehidupan bangsa”. Mencerdaskan kehidupan bangsa? Bagaimana bisa kita
mencerdaskan kehidupan bangsa jika kita sendiri belum menjadi cerdas? Jadi,
mulailah menjadi pintar untuk membantu oranglain menjadi lebih pintar. Karena ilmu
untuk dibagi.
Kedua, sehat bareng-bareng.
Kenapa sehat
bareng-bareng? Karena sehat sendirian sedah terlalu lumrah. Banyak orang yang
senang dengan pola hidup sehat, banyak orang yang gemar berolah raga, makan
makanan sehat dan sebagainya. Tapi, seberapa banyakkah orang yang memilih sehat
bareng-bareng? Anda bukan dokter? Sama, saya juga bukan dokter. Sehat bareng-bareng
itu yang seperti apa sih? Saya mendefinisikan ini lebih seperti, hal-hal kecil
yang kita lakukan dan berdampak juga untuk orang lain. Seperti membiasakan
membuang sampah pada tempatnya, terutama di tempat umum. Hal lainnya? Donor darah.
Iya, donor darah itu upaya sehat bareng-bareng juga. Si pendonor sehat,
penerima donor selamat.
Ketiga, bergerak terus.
Perubahan kuncinya
adalah terus bergerak. Pemuda sangat potensial untuk melakukan
pergerakan-pergerakan untuk perubahan. Seperti yang saya dan teman-teman
relawan Turun Tangan pernah lakukan, sendiri ataupun bersama-sama, kami tetap
akan terus Turun Tangan untuk perubahan. Ini bentuk rasa cinta dan syukur kami
untuk Negeri yang penuh dengan cinta dan cerita ini.
Keempat, sampah plastik?
Kalau saya
bilang saya Go Green mungkin
terdengar berlebihan. Apa yang saya lakukan ini berawal dari pusing. Iya,
pusing lihat sampah-sampah plastik. Saya mencoba untuk sedikit mengurangi
sampah plastik di rumah saya. Caraya? Belanja dengan membawa Totebag. Benda ini tentunya lebih kokoh
membawa beban berat ketimbang kantong plastik yang mudah robek. Bukan hal besar
sih, tapi ini pasti berguna.
Mensyukuri kebangsaan
bukan dengan berfoya-foya, bukan dengan berpesta pora. Tapi dengan terus
bergerak untuk Indonesia. Seperti lirik salah satu lagu Pandji Pragiwaksono “Angkat
Tanganmu untuk Indonesia”.
Indonesia butuh
kita. Perubahan ini tugas kita. Iya, KITA. Siapa para pemuda. Jika dulu kakek
kita perpeluh dan berdarah untuk kemerdekaan demi rasa cinta pada tanah air,
kini tugas kita untuk mensyukurinya. Untuk Indonesia yang lebih baik. Untuk cerita
cinta yang lebih indah dan manis bagi masa depan Indonesia kita.
Karena Indonesia
terlalu cantik untuk ditelantarkan. Karena kita terlalu kuat untuk menyerah
pada peradaban. Karena rasa syukur yang demikian besarnya untuk kemerdekaan
yang tak mampu terungkapkan lewat kata.
Comments