Skip to main content

Sedikit Tak kan Cukup

Pernahkah kita berpikir, bahwa Indonesia adalah berkah yang sangat luar biasa? Mari sejenak kita merenung.

Cobalah untuk duduk seorang diri di suatu tempat yang anda suka. Duduklah dengan tenang, hirup udara yang dalam, pejamkan mata sejenak, tanyakan pada diri sendiri "inikah yang aku inginkan untuk tempatku tinggal?"

Duduklah di atas pasir halus di tepi pantai. Rasakan sapuan ombak yang mencium bibir pantai. Sadarkah kita, negeri tercinta ini
Memiliki garis pantai yang sangat panjang? Bahwa di kedalaman lautnya, keaneka ragaman hayati sangat kaya? Terumbu karang, ikan-ikan dan biota laut lainnya.

Cobalah untuk duduk sendiri diantara pepohonan yang rindang. Nikmatilah sejuknya angin yang membelai mu dengan lembut. Tanyakan pada diri sendiri " Masihkah aku akan peduli dengan alam negeriku?"

Rasa syukur untuk Tuhan sang pencipta alam, takkan mampu kita ungkapkan dengan kata-kata.

Kita tak kan mampu untuk mengingkari nikmat kemerdekaan ini. Namun, adakah kita melakukan sesuatu untuk mengisi kemerdekaan yang manis ini?

Haruskah kita angkat senjata lagi? Haruskah kita bertaruh darah seperti kakek kita dahulu? Akankah kita menyia-nyiakan nyawa yang gugur untuk kemerdekaan ini?

Ungkapan rasa syukur ini tak cukup hanya sedikit. Mari kita isi kemerdekaan ini dengan cinta. Bukan lagi dengan tombak dan mesiu.

Ingatlah janji kemerdekaan yang telah dicantumkan dalam Undang-Undang Dasar 1945, "Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia". Apa yang sudah kita lakukan untuk memenuhi janji tersebut?

Banyak diantara kita menanyakan hal yang sama "apa yang saya dapat dari negara?".

Ingatlah, apa yang telah kakek kita lakukan untuk kita? Untuk kemerdekaan kita? Bagaimana seandainya mereka mempertanyakan hal yang sama? Mempertanyakan apa yang akan mereka peroleh dari negeri ini.

Cobalah untuk sekali saja berpikir, "apa yang telah saya berikan untuk Indonesia?"

Kita masih muda bukan? Mengapa kita tampak tak memiliki semangat nasionalisme? Semangat untuk membentuk Indonesia jadi lebih baik. Sudah hilangkah optomisme kita? Kita tak dibentuk oleh generasi pesimis. Kemenangan ini bukan hadiah dari para penjajah.

Anies Baswedan pernah mengatakan "berhentilah mengutuk kegelapan".

Jika kita melihat kesemerawutan negeri ini, maka tugas kitalah untuk memperbaikinya.

Indonesia yang indah ini milik kita. Maka, kita pulalah yang wajib menjaganya.

Indonesia kita ini sangat luas. Seorang presiden takkan mampu bergerak sendiri tanpa bantuan kita.

Tegakah kita melihat kemerdekaan yang manis ini ternoda? Relakah kita menumbalkan nyawa para pejuang untuk bukan apa-apa? Akankah kita menyia-nyiakan kenikmatan yang direbut dengan darah kakek kita?

Saya tidak ingin menjadi bagian dari orang-orang yang mengutuk kegelapan. Saya ingin menjadi orang yang menyalakan cahaya. Meski itu hanya dari sebuah lampu emergency kecil di dekat saya. Inilah cara saya menyukuri kenikmatan menjadi seorang warga Indonesia.

Membagi hal-hal kecil yang saya miliki. Tidak menyia-nyiakan rasa syukur atas kenikmatan ini.

Saya sangat yakin, apa yang saya miliki, juga anda miliki. Jika saya mampu, saya yakin anda juga mampu. Mari kita sama-sama menyalakan cahaya.

Ada banyak hal kecil yang bisa kita bagi. Ilmu, misalnya. Sadarkah anda, kita sangat beruntung mendapatkan akses pendidikan yang mudah. Diluar sana, banyak anak-anak yang membutuhkan pendidikan namun dibatasi biaya.

Berapakah harga setetes darah anda? Jika anda berpikir untuk menjualnya, anda menjual apa yang bukan milik anda. Tuhanlah yang menganugerahkan kita darah yang mengalir di nadi kita.

Cukupkah kita hanya sedikit bersyukur? Pantaskah kita mengeluh? Adakah kita masih kecewa dengan Indonesia?

Mari kita lihat lagi. Kemudahan dan kebebasan beragama. Keberagaman yang tak menjadi soal. Satu bahasa pemersatu diantara banyaknya bahasa daerah yang tersebar. Kekayaan alam baik di darat, laut maupun perut bumi. Inilah yang akan kita ingkari?

Diluar sana, ada negara yang masih harus angkat senjata. Diluar sana, mungkin tak sebeas ini menikmati kecintaan kita pada tuhan. Diluar sana, hamparan gurun membentang luas. Itukah yang kita harapkan ada disini?

Cukupkah hanya sedikit kita bersyukur? Cukupkah hanya sedikit kita berbuat untuk Indonesia? Cukupkah hanya sebatang lilin untuk menerangi bentangan pulau-pulau dari Sabang hingga Merauke?

Tanyakan lagi pada diri kita "sekarang apa?"

Sudahkah anda memiliki rencana untuk mengisi kenikmatan ini? Sudahkah kita menyusun rancangan untuk memenuhi janji kemerdekaan?

Saatnya kita berkarya.
Inilah wujud rasa syukur kita.
Inilah warna dari kecintaan pada bangsa dan negara.

Biarkanlah merah putih tetap berkibar. Bukan hanya di tanah kita. Namun di setiap hati yang mencintai negeri indah ini.

Karenanya, sedikit keringat takkah cukup untuk memenuhi janji kemerdekaan ini. Sedilit saja takkan cukup untuk menyukuri keindahan ini.

Sedikit takkan cukup.

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...