Skip to main content

Emansipasi dan Wanita

Kemarin, tanggal 21 April, dikenal sebagai hari Kartini bagi bangsa Indonesia. Katanya sih, R.A Kartini itu menjunjung tinggi emansipasi wanita. Bicara tentang kesetaraan hak, kesetaraan gender. Lewat apa? Lewat surat-suratnya yang dikirim untuk temannya di negara jauh sana, Belanda.

Tapi gimana menurut pendapat lo?

Oke, gue disini mau bahas tentang Emansipasi dan wanita.

Kartini mungkin memang cerdas, mungkin memang berperan, mungkin memang berbicara tentang kesetaraan gender. Tapi menurut gue, kartini belum mewakili emansipasi itu.

Gini, perempuan, cewek, wanita itu kadang aneh. Suka nuntut kesetaraan gender dan sebagainya, tapi masih minta hak khusus.

Coba kita lihat Cut Nyak Dien. Angkat senjata. Masak di rumah juga. Tanpa banyak bicara tentang kesetaraan, dia sudah melakukan kesetaraan itu. Kenapa bukan wanita-wanita seperti ini yang diangkat jadi pahlawan emansipasi?

Kenapa harus Kartini?

Disebuah pusat perbelanjaan di kota gue, (gue yakin, di kota lain juga ada) ada yang namanya parkir khusus wanita. Katanya minta kesetaraan gender, kenapa tempat parkir ada yang khusus untuk wanita?

Emansipasi menurut gue itu, gak harus benar-benar sama lurus, mutlak persis. Emansipasi itu seperti penghargaan terhadap wanita yang dibawa oleh agama. Jauh sebelum Kartini muncul, Nabi Muhammad udah menyebar kesetaraan gender.

Kenapa bawa-bawa agama? Karna menurut gue, ini dasar dari emansipasi itu.

Coba ingat masa jahilliyah, apa kabar nasib wanita? Bukan apa-apa. Cuma pelampiasan hawa nafsu. Apa yang dilakukan agama? Membela kembali hak dan kehormatan wanita.

Emansipasi seperti apa yang mau lo tuntut lagi?

Pekerjaan yang sama antara laki-laki dan perempuan? Yang bilang iya, silakan tanya diri sendiri, mampukah?

Coba cewek-cewek, bisa pasang genteng gak? Minimal benerin genteng bocor. Bisa ngaduk semen? Benerin lampu yang putus?

Gue ngomong gini BUKAN karna gue nentang emansipasi. Gue bukan penentang emansipasi. Tapi, buat yang menuntut kesetaraan, coba setarakan diri dulu. Kaya Cut Nyak Dien atau pahlawan wanita lain yang ikut angkat senjata. Bukan cuma sekedar berteriak minta disetarakan.

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...