Skip to main content

Donor Darah, Seberapa Sakit?

Siapa yang takut donor darah? Ngebayangin jarum segede itu, terus ditusukin ke lengan kita, terus darah kita diambil sekantong penuh. Oke. Terdengar serem yak.

Dibalik kelakuan gue yang lebih sering kurang feminim, sejujurnya gue takut sama jarum suntik dan darah. Mual aja gitu kalo lihat darah. Sering sih dulu gue pengen donor darah, tapi selalu urung. karna gue takut sama darah dan jarum tadi. Setiap kali gue lihat teman yang donor darah, gue selalu mikir 'Widih, ini orang hebat banget sih'. Tapi hati gue belum tergerak untuk ikut donor.

Dulu, waktu adek gue yang bungsu lahir, mama pendarahan. gue masih kecil, masih SMP, dan gue mikir 'kenapa orang-orang nggak mau donorin darahnya buat mama? Kalo gue cukup gede buat donor, gue bakal donor.' Tapi, setelah gede itu semua omong kosong.

Setelah gue cukup umur buat donor, seorang sahabat gue kena kanker. Kebutuhan darahnya sampai banyak banget. Gue masih setia memanjakan rasa takut gue sama jarum suntik. Hingga akhirnya gue kehilangan dia. Sedih? Iya. Berani donor? Belum. Gue masih dengan mata berbinar dan takjub setiap kali ada teman yang berani donor darah.

Beberapa tahun setelah gue kehilangan sahabat, tepatnya 3 Januari 2013 gue jadian sama sahabat gue. Sekedar jadian? Nggak. Kita membahas masa depan. Masalah jodoh atau bukan, itu nomer sekian. Manusia boleh berencana kan? walaupun pada akhirnya keputusan tetap di tangan tuhan. Empatbelas hari kemudian, gue dikejutkan dengan berita buruk. Pacar gue yang baru aja jadian sama gue kecelakaan. Kondisinya krtitis, harus operasi segera. Kaki kanannya remuk dan harus diamputasi. Benturan keras di kepala dan pendarahan. Dokter bilang butuh transfusi darah sekitar lima belas kantong. Lima belas. Dan gue ada di kota yang berbeda. Pulau yang berbeda. Gue nggak bisa melakukan apa-apa selain doa. Berharap ada orang yang bersedia mendonorkan darahnya.

Dia adalah sahabat gue sejak kecil, tempat gue cerita banyak hal. Tempat gue bersandar. Bayangan menghabiskan waktu dengan dia seumur hidup gue sangat menggiurkan. Hidup dengan orang yang paling mengerti kita, gue rasa itu harapan hampir setiap wanita. Tapi Allah punya rencana. Sekitar 24 jam setelah kecelakaan itu, pacar menggembuskan napas terkahirnya. menutup mata untuk selamanya. Allah memilih cara ini untuk menjemput dia dari dunia. Membebaskan dia dari rasa sakitnya.

Gue marah, kecewa, sedih, kehilangan, nggak terima. Pada siapa? Gue nggak tahu. Tuhan? Sang pemilik nyawa? Kapanpun nyawa ini diambil, itu keputusan Allah. Bukan kita. Manusia cuma "Minjam" nyawa. Orang yang menabrak pacar? Dia bahkan meninggal di tempat. Orang-orang yang dengan pelitnya mendonorkan darah? Terus gue apa? Donor aja nggak pernah.
Setelah itu, gue langsung donor? Ya enggak lah. Gue mah masih cemen. Maju mundur cantik.

Sampai pada suatu malam (halah), gue memutar lagi kenangan dengan pacar. Pacaran memang cuma lima belas hari, Tapi gue udah lama bersahabat dengan dia. Enggak rela aja kalo diambil terlalu cepat. Kenapa kebutuhan darahnya enggak terpenuhi? manusia ini banyak kan? Dan gue mikir 'gue takut buat donor'. Gue dapat jawabannya. Malam itu, gue tanya-tanya tentang donor darah ke teman yang biasa donor, dan langsung tidur lebih awal. Paginya, gue masih maju mundur mau berangkat ke PMI. Menunda-nunda dari satu jam ke jam berikutnya. Jam 11 baru gue berangkat ke PMI, dengan perasaan takut pastinya. Tapi ada teman yang ikut, dan gue itu gengsinya gede. Malu kalo ketahuan takut. Pura-pura pasang tampang sok berani. Alhamdulillah, donor pertama gue lancar. Tensi aman, Hb aman, sehat juga. Rasanya lega. Ada kebahagiaan tersendiri setelah donor.

Setelah hari itu, gue berniat rutin donor. Alhamdulillah, sudah beberapa kali donor. Takut masih ada. Gue enggak pernah berani lihat jarumnya yang nusuk lengan gue. Enggak pernah berani lihat kantong darahnya. Sakit? Enggak. Beneran deh. Lebih sakit ketika jari ditusuk buat tes golongan darah. Jauh lebih sakit ketika kehilangan orang yang kita sayang. Rasanya bukan apa-apa.

Sekarang, gue harus minum psikosis. Artinya, gue udah enggak bisa donor lagi. Sekarang malah gue yang jadi sedih karna enggak bisa donor. Tapi, gue eggak behenti disini. Tahu Blood4LifeID? Gue gabung disitu. Gue jadi Admin. Membantu menyebarkan info kebutuhan darah di jagad maya. Cuma ini yang gue bisa lakukan. Gue berharap, ini cukup untuk sementara waktu. Mungkin nanti, ketika gue bisa melepas psikosis, gue bisa donor lagi. Semoga.

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...