Seberkas rindu yang menggebu
Tak lantas buat ku merelakanmu
Ingin ku merangkul dan mendekap hangat aromamu
Berteman dengan cita rasa yang tak lugu
Mengecapmu dalam nadi
Membiarkan bait bait rasamu menguarkan manisnya
Dalam secangkir penuh aroma
Aku memuja kecintaan kita
Cinta akan rasa
Cinta akan aroma
Kerinduan yang tak lagi hanya dalam mimpi
Membelenggu dalam ingatan hati
Dan peluklah aku dalam hangat aromamu
Menarilah dalam nadiku
Ingatkan aku keberadaanmu
Yang kini terlalu sulit untuk ku jamah
Terimakasih untuk setiap pagi yang cerah
Dengan cerita dan tawa mentari
Terimakasih untuk setiap senja
Menjemput malam sehitam warnamu
Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D". Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah. Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...
Comments