Skip to main content

Meresapi secangkir kopi

Sering nongkrong di Starb**k atau exce**o? Pasti nggak asing dong ya sama kopi. Minuman berwarna hitam ini memang lagi marak diminati. Apalagi, anak-anak muda yang hobi nongkrong. Walaupun kadang cuma mesan kopi secangkir, nongkrong berjam-jam sambil menikmati wifi gratisan di coffee shop. It's oke lah ya.

Kita ini tinggal di Indonesia. Negara yang hasil kopinya melimpah. Penghasil kopi keempat di dunia. Punya banyak jenis kopi enak. Surganya pecinta kopi kaya gue gini. Tapi sayangnya, gak semua peminum kopi ngerti kualitas kopi. Kebanyakan orang, kalau disodorin kopi, terus ditanya "aromanya gimana?" Bakalan jawab "aroma kopi". Kalo ditanya rasa, "rasanya kaya kopi. Tapi enak". Udah. Gitu aja.

Tanya coba sama yang rajin nongkrong di Starb**k, gimana rasa kopinya? Tapi jangan tanya gue ya. Gue nggak pernah mampir starb**k. Bukan kenapa-kenapa, di Pekanbaru nggak ada starb**k soalnya.

Pernah kebayang nggak sih, minum kopi tapi berasa ada rasa citrusnya? Ada aroma nutty didalamnya? Banyak nih kayanya yang ngerti beginian. Biasanya barista ya. Atau paling ngga ya yang doyan banget sama kopi.

Sebenarnya, didalam secangkir kopi itu kaya banget. Coba minum kopi tanpa gula deh, hirup aromanya, seruput kopinya, nikmati sensasinya didalam mulut. (aduh, gue jadi pengen ngopi).

Bagi sebagian orang, apa yang bakal gue tulis dibawah ini mungkin udah hal basi ya. Tapi, nggak ada salahnya buat ngasih tahu teman-teman yang lain tentang kenikmatan kopi yang sesungguhnya. Biar pada melek kopi. Biar nggak sembarang ngopi sachet harga seribuan. Biar lebih suka sama kopi hitam. (hidup long black!). Biar kalo gue nyeruput kopi hitam, gak disodorin rokok sama om-om. (curhat ini judulnya).

Seorang teman pernah nanya ke gue "kenapa kamu suka kopi?". Nah, gue tanya coba. Kenapa ada orang yang suka teh, yang lain suka sirup? Kenapa orang ada yang suka nasi goreng, yang lain lebih suka nasi uduk? Kenapa ada yang bilang sate madura lebih enak, sementara yang lain lebih suka sate padang? Iya. Itu masalah selara.

Apa gue segitu ngertinya masalah kopi sampe gue suka kopi? Nggak juga sih. Gue dari kecil udah disodorin kopi. Jadi aja keterusan sampe gede doyan kopi. Tapi, rasa kopi kan gitu-gitu aja. Siapa bilang? Coba rasain benar-benar deh.

Ada ini dalam kopi
1. Aroma
    Aroma kopi dari tiap-tiap daerah atau perkebunan bisa beda-beda lho. Gak percaya? Coba perhatiin baik-baik. Ada yang pedes atau spicy, ada yang kaya kacang-kacangan (nutty), ada yang kaya bunga (floral). Ini serius bro.

2. Acidity atau keasaman
    Kopi itu punya cita rasa asam didalamnya. Cita rasa asam sama tingkat keasaman (ph) beda lho ya. Biasanya ada tiga identifikasi (halah) tingkat keasaman dalam kopi. Ada low, medium dan high. Kopi yang acidity nya low, biasanya rasanya smooth dan clean di lidah.

3. Body
    Body kopi ini lebih kaya rasa berat di kopi. Ada kopi yang waktu kita seruput (mak srrrruuppp) terasa barat dan penuh di mulut. Ada yang lebih ringan. Ada yang ringan banget. Nah, itu disebut body. Bukan body kaya Agung Hercu**s ya.

4. Flavour
    Ini yang paling gue suka dari secangkir long black. Ada macam-macam rasa disecangkir kopi. Kadang, terselip rasa vanila didalamnya. Apa waktu ngolah kopinya dicampur vanila? Jelas nggak. Kadang ada rasa citrus. Sama, ini juga nggak di campur jeruk apapun waktu ngolahnya. Terus? Ya memang dari sana nya rasa kopi begitu.

Kenapa bisa beda-beda gitu? Semua dipengaruhi banyak hal. Mulai dari tempat tumbuhnya kopi, perawatan, pasca panen, roasting, proses seduh. Sampai akhirnya jadi secangkir kopi.

Tapi, semua itu kayanya nggak ada di secangkir kopi instan sachet harga seribu deh ya. Jadi, buat yang masih minum kopi sachet, nggak pengen nih nyoba kopi enak? Kita tinggal di Indonesia lho.

Udah ah. Gue mau pergi dulu. Nyari kopi (bohong ding).

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...