Skip to main content

Belajar dari Konser Musik

Umur gue dua puluh lima tahun  ketika tulisan ini dibuat. tapi, gue baru dua kali nonton konser musik live. Kurang gaul? mungkin iya. Gue pribadi kurang suka nonton konser musik karena gue memang enggak terlalu suka dengan keramaian.

Pertama kali nonton konser, gue lupa gimana. Yang jelas, konser itu rame dan gue nonton dari jauh. kenapa? Gue males himpit-himpitan sama orang ramai. Kebayang enggak sih, gue dengan keseimbangan minim, terus ditabrakin orang-orang. Gimana kalo nanti gue jatuh? terus gue keinjak-injak. Pada akhirnya gue mati di konser artis yang biasa aja. Oke, itu lebay. Anyway, gue lupa siapa artisnya.

Konser kedua, gratis juga. Iya, gue suka yang gratisan. Maklum, banyak yang harus diutamakan. Termasuk salah satunya makan enak di angkringan Jl Sukarno Hatta.

RAN, itu dia. Gue inget karna belum lama. Maklum, otak eror gini gampang lupa. Eh, tapi ini bisa disebut konser kan ya? Anggap aja bisa ya. Mumpung masuknya gratis, gue rela aja gitu ikutan. Niat awalnya ikut Coaching Class digital writing sama Pandji Pragiwaksono, tapi ada tambahan nonton RAN. So, nikmati aja.

Gue kenalan sama seorang anak SMA. Cantik, berhijab, polos dan suka nulis. Gue lupa namanya, kita sebut saja namanya "Anis". Maaf ya dek. Disitu gue desek-desekan, himpit-himpitan, berjibaku bergandengan tangan.

Ada beberapa hal yang gue bisa ambil dari nonton konser. Oke, mungkin lo berpikir gue mengada-ada. tapi ini serius. Ini bukan bercanda, bukan halusinasi, bukan hasil teriakan dari dunia delusi.

Pertama, " Ketika kita selangkah mundur, ingatlah bahwa orang lain akan selangkah maju". Konser yang padat banget, orang-orang yang memenuhi area depan panggung, dan pagar betis panitia ketika konser belum dimulai bikin sesek. Tapi gue digandeng Anis. Anis bilang, "kak, jangan mundur". Ketika pagar betis mendesak mundur, otomatis, orang-orang yang berjubel didepan akan mundur. Tapi kita bertahan dan maju perlahan. You Know What? Kami jadi ada dibarisan paling depan. Mirip dengan kehidupan. Setiap kali kita bergerak mundur, kita memberi celah orang lain untuk maju. Kalau kita enggak bisa maju, paling enggaknya kita harus bertahan. Pasang kuda-kuda yang kuat, dan bertahan.

Kedua, " Jika sendiri kita mampu bertahan, Bergandengan akan menuntun kita kedepan". Percaya? Gue digandeng erat banget sana Anis. Ketika dia dapet celah maju, dia narik gue. Begitu juga sebaliknya. Lagi-lagi sama dengan kehidupan. Jika kita menjadi bagus ketika mengerjakan sesuatu sendiri, kita akan menjadi luar biasa ketika bersama orang lain. Satu kepala akan menghasilkan satu ide. Dua kepala akan menghasilkan ide yang saling melengkapi.

Oke, paling enggak, gue pergi nonton konser enggak sia-sia.

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...