Skip to main content

Belajar dari Traffic Light

Hari itu gue lagi galau. Ya biasa lah ya. Jaman sekarang, kalau ngaku galau, alasannya pasti karena lawan jenis.

Salah gue juga sih ya. Gue sering nolak cowok dengan alasan ini. Dan yang terakhir kali gue tolak dengan alasan ini, jadi malah bikin gue galau.

Kenapa gue nolak cowok ini, kalau pada akhirnya gue malah jadi nyesal sendiri?

Alasan lama, tapi entah kenapa sering kejadian di gue. Suatu hari gue dekat sama cowok, gue cukup nyaman sama dia. Pada awalnya, gue bener-bener nganggap cowok ini teman biasa. Sampai pada akhirnya, seorang teman cerita kalau dia ada hati sama cowok ini. Disitu saya merasa nyesek. Eh, kok ya sak njelalah cowok ini nembak gue. Dan gue pun bingung. Pucin pala. Gue bilang ke dia, kalau gue nggak mungkin nerima dia. Karena gue dari dulu memang gitu. Enggak bisa nerima cowok yang disuka sama temen gue. Jadi, ya gue tolak aja. Dan temen gue enggak tau kalau gue pernah ditembak cowok ini. Enggak berani cerita gue.

Lucu. Biasanya, gue bakal bersikap biasa aja kalo abis kejadian begini. Tapi, entah kenapa, sama cowok ini malah beda. Pasca penolakan, kita malah makin dekat. Sampai suatu kondisi, gue jadi jarang komunikasi sama dia. Karena apa? Karena gue yang mulai sok sibuk dan dia juga gitu. Pada akhirnya, kita sibuk masing-masing.

Malam-malam tanpa bintang dengan kota yang diselimuti asap pekat (mulai kumat sok puitisnya). Gue disms sama dia. Sebagai teman yang baik, ya gue bales dong ya. Padahal, dalam hati, gue jingkrak-jingkrak. Dan dia nelpon gue. Kaya biasa, kalau dia nelpon, pasti lama. (entah kenapa gue punya banyak teman yang kalo nelpon suka lama). Daaaaannnnn, you know what? Dia cerita kalau dia punya pacar. Shit! Mati gue. Patah hati dedek bang.

Kebiasaan gue, kalau lagi enggak enak pikiran, gue suka muter-muter kota pakai motor disela-sela kesibukan. Kadang juga jam pulang kerja, sejam dulu gue di jalan, baru pulang. Siang itu, gue nerusin kebiasaan itu. Muter-muter galau dijalanan.

Naik motor, keliling kota, pasti kena traffic light. Sering kali, ketika kita sengaja ngebut ngejar lampu hijau, pas nyampe disimpang, lampunya nyala merah. Iya enggak sih? Apa cuma gue doang yang begini? Pasti enggak deh.

Nah, siang itu gue ngalamin itu lagi. Beberapa meter menjelang persimpangan, lampu masih hijau. Gue kebut si revo. Pas sampai di simpang, lampunya berubah merah. Dengan terpaksa, kaki harus nginjak rem. Berhenti sebelum marka jalan. Ya kan biar dibilang "warga negara yang baik" gitu kan ya.

Disaat-saat gue nunggu lampu jadi hijau lagi, gue mikir. Iya, gue kalo mikir enggak ingat tempat. Enggak mikir juga enggak ingat tempat. Gue mikir gini "ngapain gue ngebut ngejar lampu merah, kalau pas sampai disimpang lampu belum hijau? Ngapain gue ngarepin banget sesuatu, kalau gue tau belum waktunya gue dapatin itu?" Dan disana gue merasa pinternya lagi kumat.

Hasil pemikiran ini gue sebut sebagai "filosofi lampu merah". Gini ya, Secepat apapun kita memacu kendaraan, jika saatnya lampu menyala merah, kita harus berhenti. Nanti, jika tiba saatnya, lampu akan menyala hijau. Begitu juga dengan hidup. Sekeras apapun kita menginginkan sesuatu, sekuat apapun kita berusaha mendapatkannya, jika belum saatnya, kita harus menunggu. Nanti, pada waktu yg tepat, yakinlah, hari bahagia akan datang. Nah, gitu.

Ada yang setuju sama gue? Udah. Setuju aja. Biar gue ngerasa keren.

Apa? Masalah perasaan? Biar gue yang ngerasain. Cukup gue yang tau, siapa orangnya. Yang ngerasa gue tolak dengan alasan diatas, jangan ge-er dulu. Belum tentu cerita ini buat elu. Yang pasti, siapapun itu, kita udah ngobrol masalah ini.

Udah ah. Mau nyari nyamuk dulu. Buat temen tidur ntar malem.

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...