Skip to main content

Lelah? Jadilah Ikhlas



Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D". 

Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana?

Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah. 

Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali.

Oke, fokus.

Jadi, dulu gue punya pacar, gak direstuin sama ibunya, backstreet, dan gak tau kenapa gak direstuin. Kita sebut saja namanya "Dudu" (nama andalan kalo anak-anak kelas gue dulu minta diceritain). Si Dudu ini bandel, sama ibunya disuruh mutusin gue, malah dia mutusin kuliahnya. Bego kan ya? Jadi aja ibunya makin gak kasih restu.

Singkatnya, Dudu diminta buat nikah sama cewek lain. Cewek yang tinggal se-Kota sama dia. Kapan? Pas gue lagi cinta-cintanya sama dia. Pas kita sedang merencanakan pernikahan, merencanakan usaha apa yang bakal kita buat untuk hidup di masa depan. Kita bakal tinggal dimana? Kita bakal punya anak berapa. Semuanya.

Terus gue gimana? Ya gue tersingkir.

Cerita kedua, udah sering gue ceritain disini. Yang gue kehilangan Ali.

Dua kejadian ini bikin gue gila. Dibombardir patah hati gila-gilaan berturut-turut, akhirnya gue gak kuat mentalnya. Jadi apa? Jadi gila.

Entah gimana ceritanya, gue sampai pada titik Ikhlas. Gue ulangin lagi ya, IKHLAS (sengaja di capslock biar pada baca). Sampai pada titik gue udah gak nagis lagi waktu ngomongin Ali. Udah gak pakai muka benci, bengis, sadis, durjana angkara murka dungdung tralala kalo ngomongin Dudu.

Dan, gue ngerasa jadi sembuh. 

Kaya lo candu, ketika lu udah bisa lepasin candu itu, lu gak perlu sakau lagi. Bukan, bukan. Gue gak make. Gue addict sama kafein. dulu pernah sembuh, sekarang? Karna diminumin kopi lagi, ya jadi aja kumat lagi. Jadi gue tau gimana rasanya kecanduan. Telat aja minum kopi pagi itu, langsung jadi sakit kepala. 

Balik ke Ikhlas

Ikhlas itu kaya obat dari candu. Serasa bebas tanpa beban. Setelah ikhlas Dudu nikah sama cewek itu, rasanya bego banget dulu gue gak kasih mereka ucapan selamat. Saat gue ikhlas Ali "duluan", rasanya gila banget gue gak rela sama takdir Allah. Sekarang, Rasanya lebih ringan. Lebih tenang. Seolah, semua itu cuma masalah sepele. Lupa kalo dulu gue pernah jadi gila, pernah jadi kurus, pernah jadi histeris, pernah nangis gak berenti-berenti.

Iya. Untuk sampai pada titik ikhlas memang gak gampang. Sussaaaaaahhhhh..... Beeerrrrraaaaaaaaatttt.... Sssssaaaaaaakkkiiiiiiiiiiiiittt....... 

Kaya waktu dulu gue belajar ngelepasin kafein. Pusing berkepanjangan. Harus dijalanin. Harus dilawan. Harus diikutin. Biar apa? Biar pas pada waktunya, kita udah gak harus kecanduan lagi. Biar apa? Biar kita bisa lebih menikmati hidup. Biar apa? Biar hidup jadi lebih ringan.

Percaya deh sama gue. Setelah sampai pada titik ikhlas, semua masalah serasa kecil. Allah bareng kita. Apa lagi yang harus kita takutkan? Sampai pada titik Ikhlas, seolah semua masalah ringan. Sampai pada titik ikhlas, semua kesalahan seolah gak penting. Sampai pada titik ikhlas, kita lupa cara membenci.

Kenapa gue nulis ini? Buat ngingetin diri sendiri, Gue kudu ikhlas. Masih banyak masalah yang harus diselesaikan. Masih Panjang jalan cerita yang harus dituliskan. Masih banyak salah yang harus diperbaiki. Masih kecil banget gue dimata Tuhan.

Kenapa gue nulis ini? Buat biar gak lupa kalo gue harus ikhlas. Always.

Kenapa gue nulis ini? Biar gue jadi bersyukur karna masih punya ikhlas.

Udah. Gitu aja.

Comments

Unknown said…
ada typo di kata gial, mungkin maksudnya gila. Hehehe
Anggun said…
eh, iya. Typo. makasih sudah ingetin.

Popular posts from this blog

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...