Skip to main content

Selalu ada Alasan untuk Bersyukur

Gue sering banget mengeluh. Bukan berarti gue gak pernah bersyukur. Tapi, gue sering banget mengeluhkan beberapa kasus. Misalnya, listrik padam, PDAM padam, hujan, matahari yang terlalu terik, atau masalah-masalah kecil lainnya. Manusia selalu punya cara untuk mengeluh.

Pernah enggak, kita tiba-tiba bersyukur untuk sesuatu yang menurut orang lain itu musibah? Gue yakin, pasti jarang. Mungkin pernah, tapi jarang. Ngaku deh. Benerkan gue?

Malem itu gue serasa disentil oleh seseorang. Beliau salah satu orang yang gue hormati. Bapaknya anak-anak TurunTangan, Bapaknya anak-anak Indonesia Mengajar juga kayanya.

Disaat kita lagi ngumpul, biasa lah ya, bahas hal-hal sok serius gitu. (Serius sih sebenernya, tapi kalo gue yang ngomong mah esensinya udah bakal jadi beda). Muka pejuang-pejuang muda ini lagi pada serius gitu ya. Menjelang adzan magrib, tiba-tiba listrik padam. Cowok-cowok berangkat ke Masjid, dan cewek-cewek sholat di lantai atas Rumah Bapak dan Ibuk.

Selesai sholat, gue ngobrol-ngobrol bareng bapak seputar kegiatan gue di kantor. Tentunya dengan penerangan dari lampu emergency yang gede. Enggak lama, cowok-cowok ganteng pulang dari masjid. Seketika listrik nyala. Semuanya bilang "Alhamdulillah". Padahal, sebelum itu, gue menggerutu karena listrik padam. Menggerutu dalam hati pastinya, kan gue kakak yang baik, jadi harus bersikap baik.

Bapak bilang gini, "Alhamdulillah, listriknya nyala. Ini karena anak-anak muda yang keren baru pada pulang dari Masjid."

Disitu gue merasa disentil. Seolah Bapak mau bilang "Ada banyak cara lho buat bersyukur."

Bener. Selalu ada cara untuk bersyukur. Ada Milyaran cara untuk bersyukur.

Gue ODMK? Kalo gak gini, gue mungkin enggak akan paham dengan orang-orang yang tiba-tiba depresi. Dulu gue berpikir, orang yang bunuh diri, orang yang bunuh anaknya, itu bego. Sekarang gue tahu, itu bukan keinginan mereka. Dulu, gue pikir halusinasi itu dengan mudah bisa kita tangkal. Sekarang gue tahu, Enggak segampang itu. Butuh obat-obatan. Butuh keteguhan hati. Butuh mental baja untuk mengabaikan delusi.

Pacar gue diambil terlalu cepat? Nope. Dia pergi di waktu yang tepat. Kalo gue enggak kehilangan dia, gue enggak akan berani donor. Gue enggak akan kenal dengan orang-orang yang rajin donor. Darah gue enggak akan berarti bagi orang lain.

Hujan? Coba aja Riau enggak turun hujan. Titik-titik api pasti bermunculan.

Panas? Bagus. Bisa jemur pakaian.

PDAM padam? Gue jadi rajin sholat di masjid. Ini beneran. PDAM di kantor beberapa waktu sempet padam. Gue jadi rajin ke Masjid, Sholat dimasjid pas Dzuhur, Ashar sama Magrib.

Selalu ada cara untuk kita bersyukur.

Tapi ingat. Pastinya HANYA jika kita MAU.

Kenapa harus bersyukur? Biar kita lebih bahagia. Lebih mudah menjalani hidup.

Trust me.

Allah udah menjamin ini. Jadi, kalo gak percaya gue, percaya sama Allah aja.

Bersyukur biar apa? Biar kita lebih bahagia.

Udah ah. Bye.

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...