Skip to main content

Cewek dengan Secangkir Kopi Hitam tanpa Gula

Look at the crema. Can you smell the aroma? 
Beberapa waktu yang lalu, disebuah acara yang digelar di coffee shop, seorang barista bilang "coba aja cewek dikasih kopi hitam, mana mau". Ini barista, belum ketemu banyak cewek kayanya. Atau jangan-jangan, ah udah ah. Kebanyakan spekulasi.

Gue masih inget, dulu, jamannya coffee shop belum booming kaya sekarang, kalo gue pesen kopi hitam dan gak manis, gue serasa jadi alien. Makhluk asing entah dari mana. Bahkan, sekarang pun, disaat coffee shop menjamur, dengan kualitas rasa beragam, gue masih jadi alien ketika mesen kopi hitam di warung. Dan, sebelnya gue, kalo mesen kopi hitam di warung, serasa minum air gula aroma kopi. Jadi, udah lah ya, kalo gak kepaksa, karna udah harus minum kopi, gue juga males pesen kopi hitam di warung.

Apa sih yang salah, kalo ada cewek, muka imut dan muda kaya gue (plastik mana plastik), minum kopi hitam, dengan sedikit gula, atau malah enggak pake gula sama sekali?

Stigma yang beredar, yang minum kopi hitam itu om-om, bapak-bapak, atuk-atuk. Padahal, om-om, bapak-bapak, atuk-atuk, kalo minum kopi hitam, masih dikasih gula.

Gini, kopi itu punya cita rasa yang, kalo gue bilang "enggak lugu, tapi pemalu". Engga semua orang bisa menikmati "kecantikannya". Dan "kecantikan" itu, bisa dinikmati kalo dalam seduhan kopi itu, engga dicampur apa-apa, baik gula, susu, atau krimer. Karena, selalu ada semburat rasa manis, dalam setiap teguk kopi tanpa gula.

Gue ngomong, udah kaya barista belum? Belum lah ya. Masih jauh, pastinya.

Gue pernah ngomong dimana gitu gue lupa, selalu ada semburat rasa manis dalam setiap teguk kopi tanpa gula. Gitu. Kenapa? Buat gue, kopi itu keajaiban. Kenapa tanpa gula? Karna gue udah cukup manis, ntar kalo dikasih gula, jadi eneg. Eh, gak gitu ding. Bercanda.

Tahukah kalian, cewek dengan kopi tanpa gula itu gak cuma gue? Banyak. Gue punya beberapa temen, cewek, muda, minum kopi hitam, tanpa gula. (Ada ya lip?) Ada. Banyak. Percaya? Harus. Biar apa? Biar gak gue omelin.

Cewek dengan kopi tanpa gula itu seksi. Kata siapa ya? Gue lupa. Tapi pernah denger.

Udah ah. gitu aja. Intinya, ada banyak kok cewek yang minum kopi tanpa gula.

Kapan-kapan, kita ngomongin kopi lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...