Skip to main content

Durian dan Perspektif

Gue, orang yg gak suka aroma durian. Nih, gue capslock. Gue gak suka AROMA durian. Dimana gue mikirnya, durian udah pasti gak enak. Kenapa? Aromanya aja bikin gue mabok. Udah gitu, jelek gitu. Banyak duri. Iya kan ya?

Buat yg pernah nyicip durian, rata-rata bakal bilang "gila lu. Durian kan enak," gitu. Tapi apa? Gue tetap aja gak suka, karna dari perspektif gue, durian itu bau dan jelek.

Gue tau gak rasa durian? Ya gak. Kenapa? Gak pernah nyoba. Tapi, kok gue berani bilang, kalo gue gak suka durian? Ya karna gue lihat dari perspektif, kalo gue gak suka aja sama baunya. Baunya bikin isi perut gue keluar semua.

Terus apa?

Gini, kita sering kali melihat sesuatu dari perspektif kita. Merasa udah benar, dan merasa udah tahu. Terus, kita jadinya gak mau menerima perspektif yang lain, dengan asumsi, bahwa kita udah punya kesimpulan sendiri.

Sayangnya nih, orang kaya gini nih banyak banget.

Kenapa kok sayang? Ya karna dia gak mau menerima pandangan lain. Alasannya? Pandangan dia udah bener.

Gini deh, kubus, misalnya. Sisinya kan ada banyak tuh. Nah, gue cuma lihat satu sisi aja, dan kebetulan warnanya sisi itu biru. Gue ambil kesimpulan, gue suka sama kubus ini. Katakanlah, ini kubus A. Nah, ada kubus lain, yang sebenernya sama persis sama kubus yang gue suka. Katakanlah kubus B. Kebetulan, yang menghadap gue, sisinya oren. Yang mana warna ini menurut gue norak, dan gue gak suka. Padahal nih, kedua kubus ini sama persis. Tapi, gue melihat cuma dari satu sisi doang.

Ya perspektif itu begitu.

Terus, salah ya, bilang kubus A itu biru, dan kubus B itu oren? Ya gak. Bener. Tapi gak lengkap.

Kalo aja nih, gue mau lebih membuka wawasan, membuka pikiran, lebih open mind, gue melihat beberapa sisi dari kedua kubus ini, dan bisa jadi gue ketemu warna yang sama dari keduanya. Tapi, mungkin letaknya aja nih yang beda.

Skarang ini kan, lagi musim ya, orang-orang melihat dari satu perspektif, terus merasa udah tau semuanya. Ada? Ada. Banyak. Rame.

Suka kesel, lho gue. Serius. Capek aja gitu. Dan senjatanya suka aneh-aneh. Ada yang bawa agama, ada yang bawa ras. Ada yang ngwrasa pinter. Ada yang nganggap, kalo itu semua warisan yang kita harus terima. Ada yang bilang, kalo nganggep itu semua warisan, berarti belum dapet hidayah, dan harus diluruskan.

Kenapa sih, gak coba melihat dari perspektif orang lain? Kenapa coba yang ngebakar lilin sama yang pengajian gak saling memahami perspektif satu sama lain?

Oh. Terus, kalo gue gak bakar lilin, tapi gue mengerti kenapa mereka bakar lilin terus berdosa, secara agama? Sori, tolong benerin kalo gue salah. Gue merasa, itu bukan hal yang salah, dari sudut pandang agama.

Kalo gue gak ikut bakar lilin, dan gue beribadah sesuai ajaran agama gue, apa gue gak mendukung bhineka tunggal ika? Sori lagi nih. Tolong benerin, kalo gue salah. Didalam pancasila, sila pertama, ketuhanan yang maha esa, gue boleh beraga sesuai dengan agama gue. Tapi, tetep kan ya, di sila ketiga, tetep persatuan indonesia.

So. Udah lah ya. Gak perlu ribut-ribut lagi lah. Buat apa, kita yang capek ribut, 'dalang' nya yang menang? Buat apa coba? Lu kehilangan temen, bahkan mungkin sodara.

Udah lah.

Cobalah lihat dari perspektif orang lain. Kaya gue bisa menghargai orang yang suka makan duren, bahwa menurut mereka duren itu enak.

Udah lah.

Kubus itu, sisinya banyak. Coba bolak-balik lagi. Ada warna lain, dari selain yang lu lihat.

Udah lah.

Kopi, memang hitam, mungkin juga pahit. Tapi ada semburat rasa manis, kalo lu mau mencari.

Udah lah.

Kita Indonesia.
Gue muslim.
Lu? Terserah.

Tapi, kita tetap sama.

Kalo habis ini gue dapet banyak kritik dan saran, gue terima.

Kalo habis ini gue dapet perspektif baru, alhamdulillah.

Kalo habis ini gue dapet pelajaran baru, akan sangat berguna dalam hidup gue.

Udah.

Comments

Popular posts from this blog

Lelah? Jadilah Ikhlas

Nulis ini, jadi inget temen yg punya jargon "Ikhlas Tanpa Batas". Namanya Saddam, dengan 2 huruf "D".  Kita mulai dari mana? Dari keluhan-keluhan yang sering gue dengar? Dari keluhan dalam hati gue yang sering ngeluh dan sering lupa bersyukur? Atau dari mana? Gini deh, gue males bergunjing. Lagi-lagi gue mau cerita pengalaman pribadi aja. Berawal dari gue yang patah hati. Jaman masih muda banget, gue pernah patah hati yang bikin gue sampai, apa ya? Benci? Muak? Eneg? Atau apalah.  Dulu, gue punya pacar. Iya, dulu gue gak jomblo. Pacaran udah sekitar tiga setengah tahun, tanpa restu dari orang tuanya. Kenapa nekat? Karena kita yakin, suatu saat ibunya pasti bisa ngerestuin. Kenapa ibunya gak kasih restu? Itu yang sampai sekarang masih belum dapat jawaban. Si abang gak mau cerita sampai sekarang ini. Eh, Tapi karena gue juga gak pernah ketemu lagi sama dia sih ya. Terakhir ketemu pas pemakaman almarhum Ali. Oke, fokus. Jadi, dulu gue punya ...

Secerah Hati Pada Bingkai Jendela

Ini hati Ketika sepi ia merasa sendiri Saat sendiri mungkin ia tak merasa sepi Ini hati Tergeletak di tepi bingkai jendela Kala mentari menerobos sela-selanya Maka senyum cerahnya menular dan merasuki hati Ini hati Bercengkrama dengan daun-daun keladi Melepas tetes demi tetes air di atasnya Menghapus sisanya hingga tak terlihat lagi Ini hati Bergumul dengan sendiri Masih menanti yang telah pergi Meski ia tahu harus rela sendiri Ini hati Tergelitik oleh rambutan yang jatuh Ternoda getah yang enggan pergi Meski telah dicuci dan dicuci lagi Mana hati? Mungkin sedang ke kali Mengail udang yang sedang lengah Atau berenang bersama belut Itu hati Sedang berdiri di tepi bingkai jendela Bertegur sapa dengan mentari Melepas mentari pergi ke peraduannya Ini hati Menanti fajar datang lagi Agar kembali bertemu sang mentari Hati? Iya, hati Yang cerah kala di tepi bingkai jendela

Tanya Ku

Saat aku bernapas, terasa sesak. Aku bertanya "apa yang salah pada paru-paru?" Paru-paru diam. Ia tak bersalah. Justru ialah korbannya. Ketika ku pandang langit, langitku tak lagi biru. Aku bertanya "mengapa langit memudar, warnanya?" Langit tak bersuara. Diam-diam, langit masih bersinar biru dengan megahnya. Kala kulihat hutan, hutanku memerah. Kutanya padanya "mengapa hutan memerah?" Hutan diam. Tak lagi mampu menjawab tanyaku. Karena hutan tengah dilumat api. Diam aku menunggu hujan, hujan enggan turun. Ku tanya pada hujan "mengapa engkau enggan turun?" Hujan diam. Hujan masih resah pada bumi. Kuraba bumiku, penuh debu dan gersang. Kutanya bumi "mengapa engkau gersang?" Bumi diam. Bumi masih merindukan hujan. Pada siapa aku harus bertanya? Pada siapa aku harus meminta? Dengan mudahnya, banyak orang menjawab "Tuhan". Tuhankah yang harus dipersalahkan? Bukankah atas keramahan Tuhan, masih ada rumput hijau yang ...